loader

Defining Expensive (p. 1): Start Being A Smart Consumer!

[[{"type":"media","view_mode":"media_original","fid":"179","attributes":{"alt":"","class":"media-image","height":"326","style":"display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;","width":"670"}}]]

"Kok harganya mahal?", barangkali adalah pertanyaan yang paling sering kami peroleh. Baik di pameran, seminar, talk show ataupun via online. Tentu saja kami sangat paham mengapa pertanyaan tersebut sering kali dilontarkan. Sabun batang bisa dibilang salah satu produk sehari-hari yang harganya relatif cukup murah, sekitar 3000-8000 rupiah saja per batang.

Kenapa sabun Wangsa Jelita bisa dihargai hingga Rp 25.000 per batangnya?

Biasanya, kami akan menjawab begini: sabun Wangsa Jelita harganya relatif lebih tinggi karena sabun ini diproses dengan konsep natural sehingga sabun ini sangat baik dan aman tak hanya bagi kulit tapi juga lingkungan. Kami akui, mungkin 50% dari orang yang bertanya belum puas dengan jawaban di atas.

Kenapa memangya kalau natural? Apa hubungannya dengan lingkungan? Apa maksudnya diproses dengan konsep natural?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang membuat kami merasa perlu untuk menuliskan dan menyampaikan mengapa sabun natural umumnya memiliki harga yang lebih tinggi. Kalau kamu termasuk salah satu orang yang bertanya-tanya akan hal yang sama, kamu perlu mengikuti setiap artikel dalam rangkaian "Defining Expensive" ini. Kami berharap setelah memahami dengan baik mengenai kulitmu dan sabun komersial biasa serta sabun natural, setidaknya kamu dapat mengambil informed decision atau keputusan yang didasari informasi yang tepat.

Oleh karena ada cukup banyak hal penting yang kamu perlu pahami, kami akan membagi tulisan mengenai "Defining Expensive" ini menjadi beberapa bagian. Pada bagian pertama ini, kita akan diskusikan mengapa kamu perlu lebih teliti dan berhati-hati dalam merawat kulitmu. Here it goes! :)

**

Pertama, kamu perlu memahami bahwa kulitmu merupakan organ yang sangat berpori dan mudah menyerap apapun yang ada di permukaan, seperti kain atau kertas tisu. Artinya, apapun yang kamu oleskan di permukaan kulit, pasti akan masuk ke dalam tubuhmu sama layaknya kamu menghirup udara melalui hidung atau memasukkan makanan ke mulutmu. Bila kamu cukup peduli dengan kesehatanmu, setelah mengetahui hal ini tentu kamu akan lebih teliti memilah produk apa saja yang cukup aman untuk berinteraksi dengan kulitmu. Prinsipnya, bila kamu tidak mau zat tersebut ada di dalam tubuhmu, jangan biarkan zat itu menyentuh kulitmu. Selalu cek label setiap produk perawatan kulitmu dan pahami bahan-bahan yang terkandung di dalamnya.

 

Pertanyaan selanjutnya adalah bahan atau zat apa yang tidak ingin kamu serap?

Pewarna buatan, tentu. Kalau kamu tidak rela mengonsumsi makanan dengan pewarna buatan, seharusnya kamu juga akan menghindari berbagai produk perawatan kulit yang mengandung bahan yang sama. Bila kamu ingin menghalangi penjahat masuk, tidak cukup hanya dengan menutup dan mengunci pintu tapi kamu juga harus menutup dan mengunci jendelamu. Kira-kira seperti itu analoginya. Bahan lain yang tak ingin kamu sentuh adalah deterjen atau Sodium Laureth Sulfate (SLES). Kalau kamu belum pernah tahu tentang zat ini, kami pernah menulis artikel tentang SLES disini.

 

Kenapa deterjen berbahaya?

Deterjen membuat kulitmu kering dan mengikis lapisan kulitmu. Ketika mengalami kekeringan, secara otomatis kulitmu akan memproduksi minyak atau sebum lebih banyak yang seringkali justru terperangkap di dalam pori-pori dan menimbulkan jerawat atau masalah kulit lainnya. Meskipun demikian, SLES masih banyak digunakan dalam proses pembuatan sabun komersial karena dapat menghasilkan busa yang banyak dan, tentu saja, murah.

Jangan cepat puas dengan sabun yang banyak berbusa, karena bisa jadi memang hanya busa yang kamu peroleh bukan manfaat yang sesungguhnya seperti membersihkan apalagi melembabkan kulitmu. Tapi tentu saja semua kembali pada apa tujuanmu untuk menggunakan sabun, apakah untuk bermain busa atau merawat kulitmu sebaik-baiknya? Kalau tujuanmu yang pertama, gunakan sabun yang kaya deterjen. Sebaliknya,bila tujuanmu yang kedua, justru hindari sabun yang mengandung SLES.

Kamu juga perlu berhati-hati dengan bahan yang bernama paraben, yang pada dasarnya adalah bahan pengawet buatan. Jenis paraben yang umum digunakan dalam produk perawatan adalah methylparaben, ethylparaben, propylparaben dan butylparaben (catat!). Paraben memang efektif dalam menjaga produk tetap awet hingga tahunan lamanya, namun bila paraben telah masuk ke dalam jaringan tubuhmu melalui kulit, maka paraben dapat mengimitasi estrogen dan mengganggu sistem hormon tubuh.

Penelitian yang dilakukan oleh Cornell University menyebutkan bahwa paparan jangka panjang terhadap estrogen dapat meningkatkan resiko kanker payudara. Hal ini dikarenakan estrogen, dan bahan kimia yang berperilaku seperti estrogen, berperan dalam merangsang pembelahan sel-sel payudara dan mempengaruhi hormon-hormon lain yang juga merangsang pembelahan sel-sel payudara. Tahun 2004, University of Reading dari Inggris menemukan konsentrasi paraben yang tinggi, terutama methylparaben, di tumor payudara, meskipun belum diketahui pasti apakah paraben memang merupakan penyebab dari kanker payudara itu sendiri.

Bahan terakhir yang perlu kamu waspadai adalah polyethylene glycol (PEG) yang umumnya digunakan sebagai emulsifier untuk membantu pencampuran antara bahan berdasar air dan bahan berdasar minyak. PEG terutama harus dihindari ketika kulitmu sedang tidak dalam kondisi yang baik atau produk perawatan kulitmu mengandung berbagai zat yang berbahaya karena PEG akan mendorong zat-zat tersebut masuk ke dalam pori-pori kulit. Efek ini dikenal dengan nama penetration enhancing effect.

Nah, setelah mengetahui resiko dari keempat bahan di atas, kamu sudah mulai dapat memilih dengan lebih bijak dan pintar. Ingredients atau komposisi bahan dari sabun diharuskan dituliskan dalam kemasan bukan tanpa alasan lho, tapi justru untuk membantu konsumen dalam memilih produk dengan tepat.

If you are reading this article, we believe you are a smart woman. Now it's time for you to be a smart consumer. :) We will discuss the topic further on the next part of Defining Expensive series. Meanwhile, if you think more people should be informed about this matter, here is a tweet you could send out if you wanted:

"Start caring for ourselves. Read what @wangsajelita has to say about being a smart consumer! >> http://bit.ly/U96zhx"