loader

Nyaman tanpa Premenstrual Syndrome (PMS)

[[{"type":"media","view_mode":"media_large","fid":"264","attributes":{"alt":"","class":"media-image","height":"360","style":"display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;","width":"480"}}]]

 

Premenstrual syndrome atau akrab disebut dengan PMS pastinya sudah tak asing lagi terdengar di telinga kita, atau bahkan kerap kali terasa kita alami sendiri. Apa sih sesungguhnya premenstrual syndrome itu? Benarkah hal ini merupakan fenomena nyata yang terbukti secara medis? Apakah benar PMS ini patut disalahkan ketika emosi atau nafsu makan sulit ditahan menjelang periode mestruasi? Bagaimana mengatasinya? Yuk, cari tau lebih lanjut!

Apa yang dimaksud dengan premenstrual syndrome?

Premenstrual syndrome (PMS) adalah kumpulan gejala, baik gejala fisik maupun perubahan mood yang terjadi beberapa hari sebelum menstruasi. Gejala timbul dalam fase luteal dari siklus menstruasi, yaitu fase dimana sel telur terlepas dari indung telur dan terbentuk korpus luteum yang menghasilkan hormon progesteron dalam jumlah besar.

Terdapat banyak sekali gejala yang dapat terkait dengan PMS, namun berdasarkan sejumlah penelitian yang telah dilakukan, American College of Obstetricians and Gynecologist (ACOG) merumuskan bahwa seorang wanita dikatakan mengalami premenstrual syndrome bila mengeluhkan setidaknya satu dari gejala-gejala berikut antara lain depresi, mudah marah, mudah tersinggung, cemas, kebingungan, penarikan diri dari lingkungan sosial, terasa keras pada payudara, rasa kembung, sakit kepala, atau bengkak pada tangan dan kaki, yang muncul dalam waktu 5 hari sebelum periode mestruasi, dan terjadi pada 3 periode mestruasi berturut-turut.

Gejala harus mereda dalam 4 hari setelah dimulainya periode mestruasi, dan tidak muncul kembali setidaknya sampai hari ke 13 setelah dimulainya periode menstruasi. Gejala tidak timbul pada saat mengkonsumsi obat-obat tertentu, konsumsi hormon, atau alkohol. Gejala ini juga dapat digolongkan sebagai PMS apabila tidak terdapat disfungsi sosial atau ekonomi yang nyata.

Bagaimana cara mengatasi PMS?

Pada sebagian besar wanita, gejala PMS dapat diatasi dengan pengaturan pola diet dan gaya hidup. Pola diet yang dianjurkan untuk menekan gejala PMS antara lain:

  • konsumsi makanan yang kaya akan karbohidrat kompleks, seperti roti gandum utuh, pasta, atau sereal
  • makan dengan porsi kecil tetapi sering. Porsi sebaiknya dikurangi dari porsi makan biasa, namun jarak antar waktu makan tidak lebih dari 3 jam (6 kali makan / hari)
  • hindari kafein dan alkohol
  • konsumsi suplemen kalsium dan magnesium. Berdasarkan penelitian, suplementasi kalsium dapat menekan gejala fisik maupun perubahan mood pada pms, sedangkan magnesium dapat mengurangi gejala kembung, rasa keras pada payudara, serta perubahan mood.

Sedangkan untuk gaya hidup, yang dianjurkan untuk mengatasi gejala PMS antara lain:

  • latihan aerobik seperti berjalan, jogging, bersepeda, atau berenang, selama 30 menit tiap kalinya dan dilakukan minimal 3 kali seminggu
  • latihan relaksasi seperti meditasi atau yoga
  • tidur dengan durasi yang cukup dan teratur setiap harinya.

Apabila gejala PMS belum dapat teratasi dengan pengaturan pola diet dan gaya hidup, serta gejala yang timbul cukup berat hingga mengganggu aktivitas, seseorang sebaiknya mengkonsultasikan permasalahan ini kepada dokter. Bila diperlukan, penderita PMS dengan derajat yang berat memerlukan terapi dengan obat-obatan seperti antidepresan untuk mengatasi perubahan mood, obat diuretik bila gejala mayor yang muncul berupa pembengkakan tangan dan kaki, atau sejumlah obat-obatan lainnya.

Yup, that’s what you need to know about premestrual syndrome. Memahami fenomena ini, termasuk cara mengatasinya, merupakan salah satu langkah untuk membuat keseharian kita menjadi lebih nyaman bukan?

 

Semoga bermanfaat!

Yulinda Arty Laksmita

..

dr. Yulinda Arty Laksmita, atau akrab dipanggil Mita, adalah seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Satu tahun belakangan Mita berpraktik sebagai General Practitioner, dan saat ini sedang dalam persiapan untuk melanjutkan pendidikan di universitas yang sama. Kontribusinya di bidang kesehatan, salah satunya dituangkan melalui artikel yang ditulisnya. "Sehat itu Cantik" adalah sesuatu yang ia yakini.