loader

Gangguan Depresi??

Menghadapi masalah merupakan bagian dari hidup. Masalah yang biasa kita hadapi pun sifatnya beragam, dari keuangan, rumah tangga, sosial, kehilangan sahabat atau kerabat, dan masih banyak lagi. Semua itu berpotensi besar untuk menimbulkan kesedihan atau duka pada diri kita.

 

[[{"type":"media","view_mode":"media_large","fid":"267","attributes":{"alt":"","class":"media-image","height":"357","style":"display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;","width":"336"}}]]

 

Namun, tentu saja kita tidak bisa berlarut-larut dalam kesedihan. Adanya tanggung jawab di kantor, kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi, atau mungkin anggota keluarga yang harus kita urus membuat kita harus segera bangkit dari kesedihan tersebut. Itu adalah kondisi idealnya. Karena beberapa orang memiliki kecenderungan untuk tenggelam dan berlama-lama di dalam kesedihan sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Hal ini lah yang perlu diantisipasi, karena bisa jadi gangguan, yang biasa disebut sebagai depresi, sedang menghinggapi.

Hal ini menjadi menarik untuk diangkat karena penelitian yang dilakukan oleh WHO baru-baru ini menunjukkan bahwa setidaknya terdapat 350 juta orang yang mengalami gangguan depresi di seluruh dunia (kalau kita gunakan analogi, angka tersebut kurang lebih sama dengan satu setengah kali jumlah penduduk Indonesia. Banyak sekali ya?!!). Yang memprihatinkan adalah, tidak lebih dari 10% dari jumlah tersebut yang mendapatkan perawatan dan penanganan yang tepat. Hal ini tidak lain karena kurangnya kesadaran akan gangguan tersebut.

Nah, dengan membaca artikel ini semoga kita bisa menjadi lebih mawas diri akan keadaan yang sedang kita alami.

Apa sih depresi itu?

Depresi sering digambarkan sebagai suasana hati yang dirundung kesedihan, sering tidak berminat untuk melakukan aktifitas atau merasa lelah dan tidak bertenaga. Beberapa perilaku yang menyertai ketika depresi datang, antara lain:

  • Perasaan hampa
  • Perasaan tidak berguna
  • Nafsu makan yang berubah. Bisa jadi nafsu makan menghilang atau justru meningkat yang kemudian disertai dengan kenaikan berat badan.
  • Pola tidur berubah. Tidur bisa menjadi sangat kurang atau malah terlalu lama.
  • Mudah marah atau tersinggung
  • Melakukan perbuatan nekat. Contohnya antara lain, meminum obat dalam jumlah besar hingga overdosis, mengendarai kendaraan dalam kecepatan tinggi.
  • Merasa bersalah
  • Sulit berkonsentrasi
  • Mengeluh sakit. Sering kali orang dengan depresi mengeluhkan sakit yang jika diberi obat  tidak ada perbaikan. Misalnya mengeluhkan sakit kepala, sakit perut, sakit punggung dan sebagainya.
  • Ide untuk menyakiti diri sendiri. Ini adalah yang paling dikhawatirkan dari gangguan depresi. Yang paling mengerikan, orang dengan gangguan depresi terkadang berpikir bahwa jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah adalah dengan mengakhiri hidup.

Hal-hal diatas perlu diwaspadai, terutama jika telah mengakibatkan kita tidak mampu bekerja seperti biasanya, mengabaikan kesehatan, kehilangan keinginan untuk bersosialisasi, dan yang lebih parah berpikiran untuk mencelakai diri sendiri.

Tetapi jangan jadi cepat menilai (wah, sedang depresi nih!) dan menjadikannya pembenaran untuk bermalas-malasan ya! Beberapa penelitian memang menganggap keadaan tersebut bisa digolongkan normal jika sifatnya hanya sementara. Kita perlu menjadi waspada jika hal tersebut terjadi berlarut-larut (2-4 minggu atau bahkan lebih).

Apakah ada faktor risiko yang bisa menyebabkan kita depresi?

Ada. Berbagai macam hal bisa menjadi faktor risiko atau penyebab dari gangguan depresi, antara 

  • Kesepian. Kurangnya dukungan sosial dari keluarga atau teman dekat, membuat kita berlarut-larut seoranng diri dalam lautan kesedihan. Teman untuk berbagi masalah dan bertindak sebagai support merupakan hal yang penting.
  • Frustasi
  •  Ada keluarga yang juga mengalami gangguan depresi
  •  Masalah kesehatan, pekerjaan, sekolah, rumah tangga, keuangan, dsb
  • Penganiayaan, penyiksaan, trauma
  • Penyalahgunaan obat dan alkohol. Penggunaan obat-obat dengan tidak bijak dan alkohol tidak dapat menyelesaikan masalah. Sesaat setelah mengonsumsi obat tersebut mungkin dapat membuat untuk melupakan masalah untuk sementara, namun ketika efek obat tersebut habis,  akan terjadi penggunaan ulang yang justru bisa mengakibatkan kecanduan.
  • Tidak memiliki pekerjaan
  • Perempuan. Yes, like it or not, perempuan memang lebih rentan terhadap gangguan depresi, hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon yang terjadi menjelang menstruasi atau yang cukup sering terjadi yaitu depresi pasca melahirkan.

Setelah paham mengenai depresi, faktor resiko dan gejalanya, barulah kita bisa mengambil langkah yang tepat. Jika benar kita mendeteksi adanya gangguan depresi, segeralah konsultasikan ke dokter atau psikiater terdekat. Dengan penanganan yang tepat, gangguan depresi tentu bisa diatasi. 

Kenali, sadari, konsultasikan pada ahli lalu tangani dengan baik!

 

Tita Indriasti

..

Tita Indriasti (Tita) adalah mahasiswi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (tahun 2008) yang saat ini sedang melanjutkan studinya sebagai koas. Di tahun 2012, Tita mendapatkan gelar Bachelor of Medical Science (honours) dari Universitas Monash, Australia. Sejak tahun yang sama, Tita aktif menulis untuk artikel di situs Wangsa Jelita.